⛆⛆⛆ tentang hujan ⛆⛆⛆


Langit mendung. Nampak hujan akan turun.

Aku sedang membaca ‘The Minds of Billy Milligant’ dan ada di bagian favoritku—yaitu ketika Arthur menyampaikan peraturan perilaku kepada semua tokoh atas persetujuan Ragen—yang begitu mudahnya kuabaikan.

"Aku harap hujan nya tidak jadi" ucapnya. Menyebalkan. 
"Jangan harap, hujannya akan awet hingga malam" kutimpali.

Hujan adalah favoritku. Memandangi rintikan air, dan oh jangan lupakan aroma tanah yang khas!

Hawa dingin menerpa pipiku. 

"Kita ini sekarang apa?" adalah kata yang keluar dariku. 

Ia tengah menadahi air hujan, perlahan menurunkan tangannya, "apa maksudmu?" Wajahnya nampak biasa saja tidak menunjukan tanda-tanda yang kuharapkan.

"Aku tak tahu harus bersikap bagaimana lagi, aku merasa nyaman berada di dekatmu. Dan semua yang telah terjadi diantara kita membuatku yakin bahwa kau menyukaiku juga." Aku sudah gila rupanya. 

"Kau tahu kan, aku menyukaimu?"

Ia hanya diam.

"Aku tahu kau akan seperti ini. Jujur itu menyakitkan, makadari itu aku lebih suka berbohong." Aku merunduk, memandangi telapak kakiku yang mengambang.

"Aku seharusnya membencimu. Tapi sekarang aku justru menjadi orang paling jahat. Kau tahu kenapa?"

"Aku tahu kau tidak menyukaiku tetapi aku masih berada di dekatmu. Dengan berada di dekatmu selalu membuatku berharap. Terus berharap padamu adalah hal paling bodoh yang pernah kulakukan selama ini."


Di bawah air hujan yang dilindungi atap paviliun, kini aku benci hujan.

[]

Comments