🔒🔒 gembok yang terkunci 🔒🔓


"Obeng."
"Apa kau tidak berlebihan? Kulihat kau bahagia bersamanya" cibirku.
"Aku lelah, sifatnya sungguh kekanakan."
"Menyindir di sosial media yang kau lakukan beberapa waktu lalu juga sangat kekanakan." 

"Bukankah pasangan di sini melempar kunci gembok ke bawah sana?" ucapku seraya menunjuk ke area bawah dengan dagu.

"Mereka percaya bahwa cinta mereka akan abadi." Aku mengutip jari berbentuk V-line dan menggerakkan ujungnya ketika mengatakan 'abadi'.

"Jepit rambut."
"Sebaiknya panggil tukang reparasi saja" usulku.
"Aku akan ditertawakan nanti."
"Kau tahu? Membenci seseorang secara berlebihan hanya akan menyakiti diri sendiri toh kalian pernah bahagia bersama."

Bagus sekali, aku menjadi orang bijak sekarang.

"Katakan padaku, apa yang kulakukan ini salah?" Ia mendongak dan memasang wajah bodohnya kali ini.
"Menurutmu?"
"Aku baru sadar kau potong rambut. Sedang sedih? Patah hati?" katanya dengan semangat.
"Tidak."
"Jangan bohong. Dengan siapa? Pria yang kemarin mengantarmu pulang?"
"Hanya ingin. Memangnya memotong rambut identik dengan kesedihan terus? Lagipula kami hanya berteman. Tidak lebih dari itu" tukasku.
"Berteman? Jangan konyol. Jika pria dan wanita berteman baik, pasti salah satu diantaranya ingin hubungan yang lebih."
"Sudah kubilang kami hanya berteman saja. Teman baik."

Handphone yang berada di sampingnya menyala. Menampilkan pop-up message, tertera nama perempuan yang kukenal disana. Ia membaca dengan malas, kemudian mata bulatnya melebar beberapa detik kemudian. Ia menoleh padaku. Senyumnya mengembang dengan sempurna.

"Ya, aku tahu."

Entah untuk kali keberapa diriku terjebak dalam situasi seperti ini.

[]

Comments